
why do we tend to fall for people who are out of our league?
ketika kita jatuh hati, biasanya kita jatuh hati pada penampakan luar nya. entah wajahnya, gayanya, atau sikapnya.
buat orang yang mediocre, jatuh cinta kepada orang yg diluar jangkauan sering terjadi. buat gue pribadi, hal ini udah beberapa kali gue alami.
orang yang mediocre? maksut gue mediocre disini, physically mediocre. kalo outer shell kita selaku orang yang jatuh cinta kurang menarik, ya jadinya fall for somebody who is out of our league, like humans who fall for gods/godesses.
falling for people who are out of our league most likely ga berlaku buat orang-orang yang memang menduduki posisi puncak dalam piramida percintaan.
and who are these people on top of the “love-life pyramid”?
1. attractive people
2. orang-orang yang sudah terbiasa menjalani hubungan
– attractive person falls for other attractive person? itu sih normal. mereka berada dalam relung yang sama, bukan jauh dari jangkauan.
– buat orang-orang yang memang biasa menjalin hubungan dengan opposite sex, ketika mereka jatuh hati kepada gods/godesses, biasanya ga begitu sulit buat mereka dekat dengan orang itu. entah mengapa in our society, orang yang punya banyak pengalaman dalam menjalin hubungan lebih menarik dibanding yang baru sesekali pacaran. chance for them to fall for people who are out of their league is relatively small. karena kalo jatuh cinta sama orang dan orang itu nanggepin, jadinya bukan fall for people who are out of their league kan?
beberapa hari yang lalu, gue nonton film keluaran tahun 1999 dengaan judul 10 things i hate about you. Di film itu, Joseph Gordon-Levitt (Cameron), jatuh cinta sama Larisa Oleynik (Bianca). Cameron udah berusaha mati-matian biar bisa ngedate sama Bianca, tapi dia mulai hopeless, karena Bianca is rooting for a guy named Joey. lalu temannya Cameron, bilang :
“See first of all, Joey is not half the man you are. Secondly, don’t let anyone ever make you feel like you don’t deserve what you want. Go for it.”
di film ini, Cameron itu culun, saingan sama Joey yang seorang model, buat dapetin Bianca yang flawless. walaupun begitu endingnya kebaca lah yaa, bahwa Cameron berhasil mendapatkan Bianca yang notabene out of his league, walupun Cameron sendiri sebenernya gasadar kalo dia “berbeda level” dengan Bianca.
lalu.. kenapa sih kita fall for people who are out of our league?
menurut seorang teman, alasannya karena “disekitar kita ga ada yang bagus lalu jadinya suka sama yang out of our league atau bisa juga kaya gasadar kemampuan diri kaya udah tau jelek expect nya ke yang cakep ya mana kejadian.”
setelah gue pikir-pikir, jawaban pertanyaan “why do we fall for people who are out of our league” itu sebenernya simpel, mindset.
Tuhan berfirman, semua manusia sama di mata-Nya. bayangkan kalo manusia juga punya mindset kayak gini, kita gabakal ngerasa fall for gods/godesses, karena kita bakal ngerasa se-level dengan manusia-manusia lainnya. ga akan ada yang bilang s(he) is out of my league. kayak si Cameron tadi, yang berani saingan sama Joey buat dapetin Bianca.
lalu kalau gitu… kenapa beberapa orang tidak membalas cinta kita?
menurut Ika Natassa (writer of best-selling books such as Antologi Rasa), it’s because they don’t deserve our love.
lalu.. harus ga sih we lowered our standards in order to actually be in a relationship?
setelah mengambil keputusan besar hari ini, gue bisa jawab pertanyaan itu dengan jawaban : no, we don’t have to. why settle for less when you deserve the best?

Leave a comment