Dependability

What does it mean to be dependable? What does it mean to depend on someone?
What are the qualities or objects of dependability, anyway?

You might say that I can totally depend on you, but why do my mind blame you if I wake up late?

Could it be because I expect you to wake me up in a sense that I should be able to count on you to wake me up?

Why do my heart filled with such disappointment if I see you put off praying?

Could it be that I expect you to hold the same value of faith as me in a sense that I could depend on you to remind me to keep up my faith?

It’s unfair to you that I impose these when I should be held accountable for my own self. I know. That’s why it hurts as I am torn between expectation and explanation.

And yet, here I am putting thoughts into words, alone in the room.


I wish to perish, never to feel again.

Kontemplasi Sore Hari

Sore ini aku berjalan ke arah Canary Wharf dengan M sambil aku mengeluarkan isi pikiranku.

Aku tidak mau men-diskreditkan diriku sendiri. Aku tidak mau apabila aku merasa bahwa pencapaianku (yang mungkin buat orang lain bukan merupakan pencapaian, dan bahkan mungkin aku sendiri punya tendensi untuk melihatnya bukan sebagai pencapaian) bukan apa-apa.

For instance, aku tidak mau hingga aku merasa bahwa kuliahku di UK itu biasa saja. Mungkin memang bukan pencapaian luar biasa, tetapi ga semua orang bisa kuliah ke luar negeri. Even untuk yang bisa afford kuliah ke luar negeri, belum tentu mampu berkompetisi untuk kuliah di kampusku (bukan meninggikan kampusku loh ya) dan untuk yang beruntung dan bisa berkompetisi untuk diterima di kampusku, belum tentu bisa afford kuliah ke luar negeri.

Disini aku banyak encounter dengan orang yang ga hanya intelek, tapi juga tajir. Berada di lingkungan seperti ini, ada tendensi untuk merasa bahwa itu semua biasa saja. Ya karena di circle itu, semuanya kurang-lebih sama alhasil banyak hal yang terlihat jadi biasa saja (karena semua orang memiliki or mengalami hal yang sama). However, apabila lensanya diperluas, hal tersebut sebenarnya merupakan sebuah privilege yang ga semua orang punya.

Aku gamau hal ini jadi cloud my judgment. Aku gamau aku jadi merendahkan orang lain, karena aku ngerasa orang lain harusnya tau hal yang aku tau. Aku gamau menganggap suatu hal merupakan common knowledge padahal secara tidak sadar aku tau hal itu karena aksesku ke informasi itu merupakan sebuah privilege atau simply karena encounter-ku ke informasi itu merupakan konsumsi daily sedangkan untuk orang lain belum tentu. Sama seperti halnya aku yang tidak mau direndahkan oleh orang lain ketika aku bertanya akan hal yang sederhana, sepatutnya aku tidak merendahkan orang lain apabila orang tersebut bertanya hal yang kebetulan aku tau.

Curiosity should be rewarded, not punished.

Transit in Seoul

In the midst of TV talks with foreign phonetics,

Emerged familiar sounds

“Hey, how are you?”

It’s funny how just lately I started watching K-dramas and now I landed here. Not for a visit, tho. Only for a 4 hour transit.

Still within those 4 hours, there are already some things that are different from home.

How the meal is heavy on the vegetables, how the people are well behaved, how everything is well designed.

How it is not…home. But still lovely

Skip

Ternyata build habit take effort! Dua hari lalu lupa untuk update journal dan kemarin pun sebenarnya lupa (karena ini baru update dini hari jam 1 pagi).

Alhamdulillah all things considered, semuanya membaik. Good, positive emotions are starting to pick up.

That’s….it.

Roller coaster monday

Hari ini beragam sekali rasanya. Sedih, senang, cemas, dan mungkin emosi-emosi lain yang aku gatau namanya. Hari ini mungkin miniatur hidup, naik turun.

Aku hari ini juga belajar bahwa miskomunikasi dapat terjadi karena perbedaan persepsi. Hal yang diucapkan dengan nada dan bahasa yang dianggap netral oleh satu pihak, belum tentu diterima dengan netral pula oleh lawan komunikasinya.

Hari ini aku senang mulai workout lagi. Sama temen-temen lagi. Seru dan ramai jadi bikin tambah semangat. Mudah2an konsisten ya.

Dari kemaren aku lihat temenku mencari donor plasma konvaselen untuk ayahnya. Aku sudah niatkan begitu aku negatif, aku ingin jadi donor. Sedih rasanya ketika sore ini tau ayah temenku ternyata meninggal dunia. Ya Allah wabah ini menyeramkan dan menyakitkan.

Aku dirundung rasa cemas juga atas kedua orangtuaku. Mudah2an mereka negatif aamiin.

Epiphany

during these quarantine days, aku jadi memikirkan kembali apa arti hidup. sebelum-sebelumnya sih view aku bordering nihilism gitu (i think, meski aku ga mau admit sih karena aku beragama, but idk).

ya sepertinya arti hidup tuh memang buat beribadah kepada Allah SWT. i mean, we really don’t have control over our lives loh. well, that’s not true deh. we do have control over our lives to a certain extent. tapi akan selalu ada that external power yang ga bisa kontrol yang memang adalah penentunya. that X factor. some people call it luck. heck, i call it luck. tapi aku jadi mikir, itu sebenernya izin Allah loh.

to be honest, 2-3 tahun kebelakang hidup aku miserable banget. dan iya, 2-3 tahun ini emang aku lagi jauuuh banget dengan Allah. aku sibuk banget sama dunia. maybe itu yang bikin aku miserable; karena aku lupa in the grandeur scheme of things, tujuan hidup tuh untuk beribadah kepada Allah SWT.

nah, di pertengahan 2021 ini, aku mau lurusin lagi visi misi hidupku. aku pengen align-kan lagi purpose aku dan cara aku view diriku dan lingkunganku. hopefully, aku bisa dokumentasikan journeyku ini juga lewat tulisan disini.

semoga ga hanya omong kosong ya.

Today I realized that my emotional intelligence might not be as good as I thought it’d be.

For so long I always see myself as someone wise. Sure, I tend to be emotional. But just now it occured to me that it means I’m not as balanced as I thought I am.

Looking back, the signs were everywhere. I got triggered easily and I got petty over little things.

What makes me come to this realization?

So I’ve been working on this high priority project. Not the kind that my part was only to pretty the numbers and presentations, but also participate directly! This means a lot to me. I am a science graduate (chemistry majored) who’s now in digital telco industry. I’ve been looked down plenty of times because people don’t see me as someone who’s fit for the job. Oftentimes, I’m just someone who’s job is just to look up some data and make presentations. I was never involved deeply in any projects. I’ve never felt like I’m part of any team. That made me miserable.

On this current project, I’m involved directly. I’ve made connections with not only the internal team, but the external partners as well. Heck, I’m their communication channel, I’m the bridge. From partnership with third party to directing small groups of team, I feel seen. People look up to me and actually seeks my opinion and guidance. That makes me feel good. That makes me feel like I’m making an impact and also growing as an individual.

Not everybody gets it but I feel threatened with certain coworkers. I’m terrified of not being involved. I’m terrified of being benched. To the extent of I’m envying and disliking another person’s job.

I feel and I believe that I’m good with management. I’m good with negotiations. I’m good with ideas and innovations. And I’d like to keep the fire in me alive, you know? So please, give me a chance. A real chance.