
Kadang aku butuh
Sekedar waktu sendiri
Merenung dipeluk dingin
Merana karena lara
Terdiam

Kadang aku butuh
Sekedar waktu sendiri
Merenung dipeluk dingin
Merana karena lara
Terdiam

rambut pirang tergerai menjadi fokus pertamaku kala itu.
terlihat dia sudah menunggu di pelataran teras, memandangi laut sambil sesekali memandangi kopi pesanannya.
“hai”, sapaku.
“oh hi.” katanya sedikit terkejut, lalu berdiri
“sorry i’m late” ujarku.
“it’s fine. i haven’t been waiting long” jawabnya sambil tersenyum.
senyumnya… tak ada kata yang tepat untuk aku gambarkan senyumnya. hangat, tapi tegas. menarik.
tapi….sebaiknya cerita ini ku simpan sendiri.

maybe i always talk about being committed, but deep down i’m afraid horrified of commitment.
i saw a friend of mine updated her ig story with a short video of her colleague’s wedding, ended up with a picture of her on the altar with the caption: “semoga ketularan”.
to me, this sort of thing, wanting to get married, seems like a plague.
here’s my thought:
marriage is not an escape
banyak orang disekitarku yang menjadikan pernikahan sebagai keinginan utamanya. mungkin karena eksploitasi dan komersialisasi proses sakral itu juga kali ya?
pernah ada momen dalam hidupku dimana aku merasa tidak ingin untuk berumahtangga. it was a long time ago, though. i’ve warmed up on the idea of settling down and of course, i want to get married.
sejujurnya aku masih takut dengan pernikahan, meski udah banyak public figure yang membuatnya terlihat dreamy and easy.
but,
the idea of being naked… and no, not physically naked.
anyone can stripped off their clothes and show their naked bodies to their loved ones. it’s a piece of cake.
i’m talking about mentally naked.
the idea of letting someone into your life, your head, your worries, your insecurities… it scares the shit out of me. bringing up too many “what ifs”
what if my partner never expect me to be vulnerable?
what if my partner always think that i’m balanced? and now that he found out i’m broken and rotten inside…..his love for me cease to exist?
what if, me being naked, makes my partner leave me?
yeah i know, marriage comes as one package with commitments and promises. the “for better, for worse, for richer, for poorer, in sickness and in health, to love and to cherish, till death do us part” thing. but still, what if?

sigap tanganku meraih pergelangan tanganmu.
mataku dan matamu bertemu,
sesaat semesta melambat.
hening.
*deg*
sepintas detak jantungmu bersela, berjeda.
atau itu jantungku?

apa sebenernya kita bagian dari sesuatu yg jauh lebih besar ya? terkadang kita ngerasa kalo semua tentang kita, tapi gimana kalo bukan? gimana kalo sebenernya kita adalah komponen mikroseluler dari organisme yang lebih besar? bahwa kita merasa kita yang matters, kita yang paling besar, ya karena kemampuan kita perceive hanya sampe situ?
persis kayak komponen penyusun tubuh kita, komponen2 sel. gimana antar jaringan, bahkan sel, berkomunikasi via impuls dan chemicals. gimana kalo ternyata mereka ga sadar kalo sebenernya mereka bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu kita manusia? gimana kalo ternyata, sama kayak kita, mereka juga ngerasain emosi? atau jangan2 mereka berpolitik juga? bahwa ternyata organ2 adalah negara dan wilayah diplomasi?
idk. terlalu dingin dan kurang tidur.

when we’re in a relationship, we’re taking a course about our partner.
for the most part, i think i did my part. learning about him, his likes and dislikes, his family, his past. but i don’t think he never did his part. he does know things about me, but only stuffs that are on the surface.
i did LOTS of caving in, backing down. but he never did. he never learnt to compromise. and it turns out that i’m thankful for it.
in my past relationships, i learnt about my partners more than just what he shared. we made a bond that’s more than just romanticism, but rather personal and intimate. i learnt about their hobbies, their friends (even hung out with few of them), their taste in music, their fears, their dreams. and so did they. they learnt about my likings, listened to my musics, tried to read my books (or at least let me recited them). they tried to do things that i enjoy.
but him… he never did that.
and i’m thankful for it.
thanks for saying that the musician that i like had no talent.
that it’s boring to go to museums.
that i couldn’t hang out with my friends.
for viciously killing my ideas.
thanks for making it easier for me.
because unlike the others, i don’t lose a friend. because i never got a friend in you.

nikmati liarnya kalbu menjamah kepekaan,
hingga gelap gagal sebrangi jembatan jiwa

Dengkulmu tak sengaja bersentuhan dengan tanganku. Bukan anggota tubuh yang vulgar, memang. Tetapi kau tak sadar, impulsnya membuat jantungku terhentak sejenak.
Tidak ada kesengajaan, sore itu murni naluri. Kamu yang jenuh, dan aku yang sedikit terkagum dengan kumis tipismu yang semakin saru dengan senyummu.
Kamu semestinya ingat, rasa lelah sampai titik ini. Dan aku. Aku dari seluruh orang harusnya tau, rasa termakan cemburu dan curiga. Keduanya sia-sia. Keduanya tak sehat untuk kita.
Tapi,
Sekali ini,
Sore ini,
Let’s feed on each others’ curiosity.
Dentang notifikasi terdengar nyaring pada malam yang sunyi ini.
Angin menyelinap di balik jendelaku.
Dingin.
Seolah tak mau kalah, aku pun beradu angkuh.
Dingin.
Selayaknya, ego kita terlampaui di masa lalu.
Lalu, mengapa hanya sunyi yang semakin bergemuruh yang hadir?
just this evening i was asked about my exchange year. sejujurnya aku ga pernah share cerita-cerita tentang masa exchange ku sih, termasuk ke orang deket (i’m kind of reserved). tapi… lama2 pengen cerita juga hehe.
so here i am! flashing back to 5 years ago.
Washington D.C.
kapitalnya negeri paman sam ini merupakan kota yang paling sering aku kunjungi selama setahun masa stay aku. total ada 3 (atau 4 ya?) kali aku kesini. too bad, banyak foto2 yang hilang 😦
pertama kali ke D.C. merupakan arrival-ku sebagai peserta orientasi exchange students dari program U.S. Department of States (deplunya amrik). dari Indonesia, ada sekitar 80 orang-an (if i’m not mistaken). di tambah dari negara2 lain seperti Egypt, Russia, Turkey, wah banyak deh! dulu masih belum biasa liat bule, jadi dikit2 nyengir ehehe.
selama kurang lebih seminggu, kita mengikuti rangkaian orientasi yang padeeeet banget. dulu pas lagi ramadhan juga tuh. untungnya hampir 80% aktivitas kita indoor. oh ya, orientasinya dilaksanain di Hilton Hotel. aku inget banget dulu bangun sebelum waktu subuh buat sahur. untungnya karena cukup banyak exchange students yang muslim, pihak hotel sudah prepare menu breakfast dari sesaat setelah dini hari. kalo boleh jujur sih… aku cuma shaum selama beberapa hari pertama, setelahnya aku ga shaum hehe maklum masih lemah iman.
poin dari orientasi ini adalah untuk kita adjust ke lingkungan di amrik. di hari terakhir orientasi, kita jalan2 deh di D.C. (sayang ga ada foto2 masa ini nih, cuma ketemu satu)

kali kedua aku kesini, itu pas mid-year. meski semua program exhange students resmi dibawahi oleh U.S. Department of States, selama disana masing2 students “diurus” consortium tertentu. Consortium ku adalah ACIE (https://www.americancouncils.org/). nah, trip ku kali itu juga orientasi. yaa, orientasi tengah tahun gitu lah untuk reminder tujuan program exchange kita sekaligus mengingatkan kalo sebenernya selama kita di amrik, kita ada “job” sebagai cultural ambassador dari negeri masing2.
entah kenapa, di consortium-ku saat itu, kebanyakan adalah students dari northern dan eastern europe. seru banget! karena orang2 europe tuh totally different sama american youngsters. mereka cuek dan ga fake. karakternya lebih mudah kebaca karena mereka ga cari muka. hehe for me it’s kinda true sih yg suka di film2 kalo remaja amrik suka pretend gitu. gain banyak temen dan share banyak pengalaman banget selama trip ke-2 ini (some i still talked to even 2 years after, padahal kita cuma 3 hari bareng).
pernah denger ga kalo what makes friends is common experience? iya banget nih! sekejap, kita semua cepet akrab. diluar sesi materi dan fgd, kita sering hangout di semacam “play room” di basement gedung yang kita tempatin. mulai dari foosball, billiard, sampe mesin mainan arcade juga ada.
ah! aku inget. pernah satu sesi sekitar ber 30 orang kita main truth or dare. saat itu yang kena adalah seorang student cewek dari serbia. dia memilih dare. THIS IS WHERE THINGS GOT WILD. si cewek ini ditantang untuk……………….cium cewek lain. AND SHE DID! and i don’t mean just a peck on the cheek, tapi MOUTH TO MOUTH KISS! dan seantero ruangan langsung heboh sama cowok2 yang ngiler.
olrait. selain sesi2 yang kita lakuin di dalam gedung (selama trip ke-2 ini, aku ga nginep di hotel melainkan di area youth conference center di Taylor St.), kita juga ngelakuin trip2 keliling kota
cukup puas sih di trip ke-2 ini. dari Capitol, lincoln center, MLK memorial dikunjungin. spot-spot ini turistik banget, sering muncul di film dan tiap yang ke kota ini PASTI kesini. sayang aku ga sempet ke Smithsonian.
…to be continued…